Origin Experience | Ujian untuk Barista Senior di Three Folks
Dalam Origin Experience, barista senior di Three Folks harus melakukan presentasi mengenai kopi yang mereka pilih sambil menyeduh di depan para juri. Hasilnya? Lumayannnn lucu dan bikin bangga.
Minggu lalu, saya kasih tantangan buat barista-barista senior Three Folks untuk melakukan coffee brewing presentation, yang kalau di Three Folks kami sebut Origin Experience.
Simpelnya, tiap barista harus pilih salah satu kopi manual brew yang ada di Three Folks, kemudian mereka presentasikan sambil menyeduh di depan para juri. Jurinya biasanya saya, Jhon (HRM + Learning & Development), Rizky (Floor Manager), dan 2 partner saya kalau kebetulan bisa nyempetin mampir.
Dalam persiapan ujian ini, para barista wajib mempelajari segala hal yang berkaitan dengan kopi yang mereka pilih. Mulai dari sejarah, siapa petani kopinya, berasal dari kelompok koperasi mana, varietas, ketinggian tanam, proses pasca panen, hingga profile roasting.
Kemudian mereka juga harus ngulik untuk menemukan metode seduh yang dapat menonjolkan keunikan kopi pilihan mereka secara maksimal.
Semua informasi yang mereka dapatkan harus dikumpulkan dan kemudian mereka rangkai ke dalam naskah. Dan naskah inilah yang nanti harus mereka presentasikan saat melakukan performance Origin Experience.
Ujian ini bagus banget buat maksa barista-barista senior belajar lagi soal kopi dengan lebih mendalam + ngikutin update-update yang ada. Biar ga keasikan kerja di bar, terus jadi lupa ngasah ilmu.
Origin Experience w/ Febry | Solok Orange Tea
Origin Experience w/ Ira | Puntang Tropical Bomb
Origin Experience w/ Adit | Flores Tropic Tea
Terus, karena di Three Folks lagi belajar bikin konten video, saya pikir sekalian aja dijadiin program Instagram LIVE. Kamu bisa nonton performance mereka di IGTV dengan klik tombol di atas ya.
Hasilnya? Lumayaaaannnnn…. lucu sih. Haha. Febri salah resep seduh. Dan karena kita ga kepikiran nyiapin clip-on mic, jadi Febri teriak2 biar suaranya masuk (padahal tanpa teriak juga suaranya masuk, cuma agak kecil aja). Ira lupa 70% dari naskahnya, Adit presentasi kaya guru TK. Ternyata dengan bikin acaranya jadi LIVE Instagram lumayan menambah kadar ketegangan mereka.
Banyak banget yang bisa diperbaiki. Tapi overall saya seneng dan lumayan bangga sama mereka. Soalnya saya tau gimana perkembangan mereka dari pertama masuk Three Folks. Dari yang ga ngerti apa-apa soal kopi, kalo ditinggal ngeshift sendirian bikin jantungan, sering bikin salah, dll. Dan sekarang mereka udah bisa sejauh ini, bahkan bisa jadi mentor untuk junior-junior barista di Three Folks.
Percayalah, kalau engga direkam live, performance mereka lebih baik lagi dari ini. Ini hasil rekaman remedial Febry kalau ga percaya 👇
Remedial Origin Experience w/ Febry | Solok Orange Tea
Persiapan Shift Pagi Barista di Three Folks
Barista kalau masuk pagi ngapain aja sih? Yuk kita intip kegiatan persiapan barista di Three Folks kalau shift pagi.
Barista kalau masuk pagi ngapain aja sih? Yuk kita intip kegiatan persiapan barista di Three Folks kalau shift pagi.
Dari list yang ada di video atas sebenarnya banyak yang belum kecatet. Tapi ga muat dicantumin semua untuk format video 1 menit di Instagram Reels hehe.
Untuk sekedar memberikan bayangan lebih representatif untuk persiapan pembukaan, ini kira-kira list yang lebih lengkapnya:
Nyalain mesin kopi
Ini harus dilakukan di awal karena menunggu mesin panas dan siap dipakai memakan waktu cukup lama
Kalau pakai air galon kaya di Three Folks, harus dicek dulu volume air di galon. Karena kalau airnya habis bisa bikin mesin rusak.
Saring cold brew kopi dan teh yang diseduh dari kemarin malam
Cek stok bahan-bahan yang diperlukan untuk operasional ( sirup, potongan buah, es batu, espresso untuk iced drinks, kopi filter, dll dll dll) kalau ga cukup harus segera disiapin atau beli.
Set up meja bar agar semua bahan dan peralatan siap untuk digunakan dengan workflow yang super cepat.
Set up kasir, nyalain lagu, cek internet, sapu-sapu, nyalain ac, set up meja dan kursi, cek wc, siram tanaman
Grooming biar tampan dan cantik
Kalibrasi kopi ➡ ini bisa cepet, bisa lama banget kalo kopinya agak fresh
Dan ditutup dengan doa sebelum mulai buka toko
Tamu pagi di Three Folks kalau datang suka ga ketebak. Kadang sepi, tapi bisa tiba2 udah ngantri berbondong-bondong sebelum jam buka. Dan tamu-tamu pagi itu sifatnya buru-buru dan ga suka nunggu. Makanya kemampuan datang pagi sebagai barista hukumnya udah wajib 😅
Super Barista
Apakah di coffee shop kamu ada Super Barista? Kalau belum, 5 poin penting di artikel ini akan membantu coffee shop kamu melahirkan Super Barista.
"Punya passion di kopi, team-player, well groomed, no drama, disiplin, pinter administrasi, jago jualan dan jalin relasi, rapi, bersih, good attitude, mau belajar."
Kamu pasti pernah lihat list ini di Instagram Coffee Shop kesayangan kamu saat mereka melakukan hiring. Three Folks juga pernah bikin hehehe.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan list di atas. Siapa yang gamau punya barista yang memiliki kesempurnaan seperti itu? Setiap coffee shop pasti mau kalau ada barista seperti ini.
Tapi saya berani jamin, dari ribuan coffee shop yang memasang iklan rekrutmen dengan kriteria-kriteria di atas, tidak ada satupun yang berhasil menemukan si barista sempurna ini. (Beri tahu saya kalau ada yang berhasil).
Minimal kalaupun ada, skornya pasti ga sempurna.
Lalu apakah kita harus menurunkan standar kita sebagai owner coffee shop? Menurut saya tidak. Dan artikel ini berisi poin-poin penting untuk memiliki sosok Super Barista di belakang coffee bar kamu.
Poin #1 Tidak Ada yang Sempurna
Mari akui bersama dulu kalau tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang lahir dengan kepribadian yang unik. Diikuti dengan kelebihan dan kelemahan masing-masing. Lalu buat apa kita berusaha mencari orang yang ga ada?
Untuk lebih meyakinkan kamu, Super Barista adalah barista yang dapat melalui 5 Realita Barista dengan mudah dan konsisten sepanjang tahun.
Sampai sini mungkin kamu masih bersikukuh: “ah pasti ada deh yang sempurna dan sesuai.” Mungkin memang ada, tapi yakin kamu siap punya anggota tim seperti itu?
Kalau dibayangkan memang asyik ya. Tapi bayangin, sosok ini pasti akan kamu kasih kepercayaan lebih. Dan kemungkinan besar, brand coffee shop kamu akan terbentuk berpusat pada barista ini. Kalau tiba-tiba dia keluar? Wassalam Folks.
Ketimbang mempekerjakan sosok seperti ini, saya lebih memilih untuk mengambil jalur yang lebih panjang. Dimulai dari Poin #2.
Poin #2 Ekosistem
Coba kita kritisi lagi dari awal. Coffee shop yang kamu bangun, mau buka sampai kapan? Dan tujuannya apa? Kalau tujuan coffee shop kamu dibangun adalah sebagai bisnis utama kamu, yang mimpinya bisa kamu kembangkan sampai jadi besar, yang kamu butuhkan bukanlah Super Barista.
Melainkan sebuah ekosistem yang dapat membina setiap orang yang penuh dengan ketidaksempurnaan menjadi sedekat mungkin levelnya dengan kriteria Super Barista. Keren kan?
Dengan memiliki ekosistem ini di coffee shop kamu, kamu tidak perlu pusing dengan kriteria panjang seperti di atas. Mungkin malah cukup 2: good attitude dan mau belajar. Sisanya kamu anggap sebagai bonus. Kalau punya bagus, dan bisa jadi pertimbangan lebih kalau peminat jadi barista di coffee shop kamu banyak banget.
Karena percuma kok punya barista jago-jago tapi ga cocok sama kultur yang mau kamu bangun.
Poin #3 Culture Fit
Bayangkan seorang anak baik-baik yang anti merokok, tidak suka berkata kasar, dan menolak berhubungan dengan orang yang melanggar peraturan. Kemudian kamu masukkan dia ke tim yang isinya orang-orang begajulan, dan pesta Amer 2 minggu sekali.
Sejago apapun orangnya, pasti dia tidak akan betah. Dan selama dia kerja di tim itu, dia akan menciptakan suasana yang tidak nyaman. Akhirnya kerja sama tim menjadi buruk.
Bukan berarti salah menerima anak baik-baik. Pertanyaannya apakah si anak baik-baik ini memberikan value lebih ke kerja sama dan kultur tim.
Dan bukan berarti benar juga mengisi satu tim dengan orang-orang yang suka begajulan saja.
Kamu harus memiliki kejelasan tentang nilai-nilai penting yang mau kamu bangun di tim. Dan nilai-nilai ini akan menjadi kriteria yang kamu gunakan saat hiring, evaluasi, dan program self-development.
Buku The Ideal Team Player karangan Patrick Lencioni menyarankan untuk memiliki 3 nilai utama dalam sebuah perusahaan. Ini contoh nilai yang saya terapkan di Three Folks:
Hustle
Humble
Curious
Berarti di luar nilai-nilai etika dasar (kejujuran, integritas, sopan, dll) 3 nilai ini kami perhatikan secara khusus dalam setiap proses HR.
Kalau coffee shop kamu belum punya, saya sarankan untuk coba gali. Karena ini akan menjadi basis ekosistem yang mau kamu bentuk. Dengan memiliki Nilai, kamu sebenarnya sedang memelihara kemampuan penting dalam proses seleksi.
Poin #4 Attitude before anything else
“Aduh ada calon barista jago banget. Kalo ditanya segala hal tentang kopi khatam banget. Tapi tadi pas interview rada senga sih. Terima gak ya?”
Kalau kamu baca pertanyaan di atas, kemungkinan besar kamu pasti jawab: ya enggalah!
Tapi bisa jadi jawabannya tergantung kultur yang mau kamu bangun. Kalau memang kultur yang mau kamu bangun adalah kultur kompetitif dan intelijen, bisa jadi barista di atas adalah calon yang prospektif!
Jangan terjebak dengan pemahaman yang general. Karena setiap kultur coffee shop adalah cerminan dari pemilik coffee shop yang juga berbeda-beda.
Prinsipnya tetap sama, prioritas attitude lebih penting dibandingkan skill, pengalaman, dan pengetahuan. Tapi coba definisikan dengan lebih detail lagi attitude yang kamu harapkan.
Karena mengisi tim dengan orang-orang ber-attitude yang sesuai, akan mempermudah kamu untuk membangun ekosistem yang saling membangun.
Poin #5 Better Hiring, Better Training, Better Firing
Poin-poin sebelumnya bisa dibilang adalah fondasi utama untuk membangun ekosistem. Agar coffee shop kamu bisa secara berkelanjutan memproses setiap orang menjadi Super Barista.
Poin ke-5 adalah eksekusi-eksekusi yang perlu kamu lakukan untuk menciptakan ekosistemnya.
Saya rasa dari poin-poin sebelumnya kamu sudah cukup mendapatkan gambaran tentang hiring. Kemudian untuk training, pastikan kamu memiliki 3 sistem di bawah :
Perkenalan tentang pengetahuan dasar akan kopi, SOP, dan kultur
Evaluasi berkala berdasarkan keunikan masing-masing barista, mengacu pada nilai dan standar skill yang kamu butuhkan.
Training dengan ujian dan penghargaan
Kalau 3 sistem ini diterapkan di tim yang tepat, sistem ini dapat menciptakan barista-barista jempolan. Namun tentunya harus dilengkapi dengan poin terakhir: yaitu kebijaksanaan dalam memecat.
Ini gampang-gampang susah. Karena dibutuhkan kejelasan akan alasan dan tujuan secara keseluruhan. Saat menghadapi keputusan pemecatan, ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan:
Apakah sudah ada tindakan untuk memperingatkan orang ini?
Apakah ada kelalaian di sistem yang menyebabkan hal ini?
Bagaimana pendapat tim saya dengan orang ini?
Mempertahankan orang yang tidak layak dapat menghancurkan seluruh tim. Tapi belajar dari Park Saeroyi , keberhasilan sebuah ekosistem mengubah orang yang tidak layak menjadi layak, akan memperkuat kultur dan tim kamu.
Namun, apabila seseorang tersebut memberikan dampak negatif dan ekosistem kamu belum siap untuk menerima dan mengubah orang tersebut, kamu harus memiliki ketegasan untuk bertindak.
Pastikan kamu tidak terjebak di 5 kemalasan ini ya. Kalau masih iya, apapun yang kamu bangun bakal percuma.
Kesimpulan
"Punya passion di kopi, team-player, well groomed, no drama, disiplin, pinter administrasi, jago jualan dan jalin relasi, rapi, bersih, good attitude, mau belajar."
Kalau dievaluasi, saya bisa bilang sekarang Three Folks hampir mencapai impian untuk punya Super Barista. Tapi terpisah dalam orang-orang yang tidak sempurna.
Ada yang jago jualan dan jalin relasi, tapi ga disiplin.
Ada yang jago administrasi, tapi ga jago kopi.
Ada yang jago kopi, tapi ga well groomed.
Ada yang team-player, tapi ga terlalu jago administrasi.
Dan menurut saya ga buruk sama sekali punya tim seperti ini. Karena jadi saling melengkapi. Setiap orang memiliki peran masing-masing sesuai kelebihannya. Tapi tetap dimotivasi satu sama lain untuk memperbaiki kekurangannya.
Yang lebih keren lagi, tim ini dapat dengan sangat baik membina orang baru menuju Super Barista. Karena semuanya terdiri dari orang-orang tidak sempurna. Mereka sama-sama menempuh berbagai tantangan untuk mengembangkan diri dan mengapresiasi satu sama lain.
Seperti quotes yang cukup terkenal di dunia entrepreneur, “we are not born as a Superman, but part of a Superteam.”
5 Jurus Mantul Branding-an Coffee Shop yang Lekat di Hati
Menjadi brand yang utuh harus diawali dengan identitas yang autentik dan detail. Ditambah dengan core yang kuat, namun tetap fleksibel dalam eksekusi.
"Three Fox, Tiga Rubah maksudnya? Three Folks itu yang logo-nya biru trus ada cumi - cumi ya? Three Folks itu toko es krim kan?"
Dikutip langsung dari kisah nyata, pertanyaan - pertanyaan lucu yang menyayat hati ini cukup sering kami temui di bulan - bulan (oke, tahun) pertama Three Folks berjalan. Uniknya, hal ini juga yang jadi salah satu penyemangat kami dan tim untuk semakin giat membangun dan mengembangkan brand Three Folks. Semakin hari kami semakin merasakan, bahwa yang namanya branding itu jauh lebih luas dari sebatas nama, logo, dan visual semata.
Tiada gading yang tak retak, semoga sepak terjang (a.k.a perjuangan kami) mulai dari 2017 bisa berguna juga buat kamu yang ingin membuka coffee (dan ice cream) shop sendiri.
#1 - Point(s) of Difference
Kalo sekarang ini kamu kepikiran bikin / sedang running coffee shop, coba deh tanya ‘Apa yang menjadi elemen pembeda coffee shop saya? Kenapa customer harus ke coffee shop saya daripada ke coffee shop sebelah?’
Meskipun katanya ‘Nothing new under the sun’ dan iya semustahil itu rasanya bikin sesuatu yang super original, belum pernah diketemukan dimanapun; tapi kami percaya berusaha menjadi unik selalu punya value lebih tersendiri.
Awal berdiri se-simpel coffee shop yang juga punya (dan produksi) es krim sendiri; hal itu terus menjadi inti brand kami sambil terus dikembangkan. We’re aiming to be the Best in the West!
Selain produk - masih banyak lho elemen lain yang bisa kamu ulik untuk menjadi poin pembeda dari brand kamu. Mulai dari yang kasat mata seperti interior, tableware, cara plating / serving menu, sampai ke yang makin ga berwujud seperti cita rasa, playlist musik, gaya komunikasi, dll, dsb, dst, coba lanjutin sendiri...
#2 - Konsep
Three Folks didirikan atas ulah 3 manusia penuh mimpi dan BM yang punya kecintaan besar terhadap kopi dan es krim, lalu bersatu untuk bikin café bareng. Passion. Sesimpel ini awalnya. Good news, there is a market for everything. Namun, jangan lupa riset juga karena ga semua market itu bisa menjamin keberlangsungan bisnismu.Dari pemikiran ini jugalah kami coba riset kecil - kecilan, identifikasi pasar, kompetitor, dan lihat lebih jauh target market sekitar outlet kami. Konsep café seperti apa sih yang bisa relevan dan lebih punya kesempatan berkembang di Aries (outlet pertama kami) dan secara jangka panjang di industri ini? Salah satu penemuan kami saat itu adalah bahwa selain es krim buatan sendiri sebagai unique selling point dari coffee shop kami; diperlukan makanan pula (termasuk makanan berat) di cafe kami. Sesuatu yang di luar ekspertis dan bayangan kami sebelumnya.
Tak sedikit kami lihat coffee shop yang munculnya seangkatan kami tapi sekarang sudah gugur. Ide besarnya, Idealis boleh tapi perlu konsep yang realistis juga; kenali diri dan tim-mu, tentukan arah, lalu gaspol.
#3 - Pemilihan Nama
Erat dengan konsep, adalah nama. Dulu kita sempet bingung, lalu impulsif nyerempet mager mikirin nama, dan yang tercetus pertama adalah ‘I & Co’. Diambil dari kata Ice Cream dan Coffee. Untungnya sudah lebih dulu ada brand denim lokal kece Aye & Co sehingga kami mengurungkan niat tersebut.
Kami juga percaya bahwa selain sebagai media identifikasi sebuah bisnis, nama ibarat doa. Dari situ kami berembuk lagi dan akhirnya memutuskan untuk menggunakan Three Folks sebagai nama brand kami. Berawal dari 3 orang dengan background berbeda yang saling melengkapi, dipersatukan oleh kecintaan akan kopi dan es krim, serta doa supaya 3 orang ini selalu akur terus sampai akhir hayat. Kenapa ga pake bahasa Indonesia ‘Tiga Saudara’ atau ‘Tiga Sekawan? Ya nanti dikira bengkel, toko material, atau sop kambing. hehe.
Terdengar simpel, dan selalu bisa jadi bahan cerita. Namun jangan lupa, pemilihan nama dengan bahasa inggris tersebut punya kelebihan dan tantangannya sendiri. Seperti yang kamu lihat di awal artikel, ada saja customer atau bahkan squad kami yang bisa juga keseleo lidahnya demi mengucapkan nama brand kami. Beberapa kata dalam bahasa inggris memang punya cara baca yang bisa cenderung mirip dan susah dicerna apabila tidak diucapkan dengan tepat. Coba deh ucapin Three Folks Folds Faux Fox Tree, tiga kali dengan cepat. Absurd.
#4 - Elemen Grafis
Dari mata turun ke hati, tak bisa dipungkiri bahwa visual berbicara dan memegang peranan penting bagi sebuah brand. Jujur deh kita biasanya punya kecenderungan untuk judge a book by its cover, kan? Meski demikian, saya juga percaya bahwa there’s always more than meets the eye; dan ketika cerita di dalamnya sangat kaya, ini yang jadi nilai sesungguhnya dari suatu brand. Saya coba terapkan ini ketika menciptakan identitas visual bagi Three Folks pada 2016 silam.
Pada masa ini, 3rd wave specialty coffee shop semakin berkembang di Indonesia, khususnya Jakarta. Kebanyakan dari pemain yang punya nama, menggunakan elemen warna hitam putih sebagai identitas mereka. Simple, timeless, dan coffee related. Betul. Unique...?
Dari pemikiran ini saya bertekad untuk tidak menggunakan warna hitam putih, dan juga hijau (iya karena brand kopi Siren yang terkenal itu) sebagai elemen utama brand Three Folks. Di saat yang sama, saya pribadi sangat menyukai dan terinspirasi oleh branding coffee shop Koultoura. Menurut saya, selain didukung visual yang kuat, penggunaan tokoh - tokoh binatang sebagai personifikasi karakter manusia menjadi satu pendekatan yang fresh ketimbang coffee shop lain di masa itu yang kebanyakan menggunakan logotype serta beberapa elemen terkait kopi seperti portafilter, gelas, tamper, dsb.
Saya pun memilih gurita (sekali lagi buat yang ga familiar, gurita dan cumi adalah makhluk berbeda ya. Monggo di-googling) sebagai personifikasi identitas Three Folks. Satu makhluk yang memiliki tiga jantung, dengan darah biru di dalam tubuhnya, dan kemampuan adaptasi tinggi. Layaknya Three Folks, satu entitas yang diciptakan dari persatuan 3 orang sahabat. Melengkapi doa yang terkandung dalam penamaan Three Folks itu sendiri.
Kalo kamu penasaran cerita lengkap dan portofolio grafis kami, langsung aja cek link Behance ini!
#5 - Bahasa & Cara Komunikasi
Pernah denger kalimat ‘It’s not WHAT you say, but HOW you say it.’ ? Ini penting - pake BANGET! Apalagi kalau komunikasi-nya secara langsung, action speaks louder than words.
Nah kalo bicara tentang komunikasi, bisa luaaass banget kemana - mana. Secuil yang akan saya bahas di sini, lebih ke arah bahasa dan cara komunikasi brand kamu secara verbal yang tertulis dulu, ya.
Secara brand kami namanya udah Three Folks dan mimpinya mau go international; menggunakan copywriting bahasa Inggris yang tertata sebagai media komunikasi baik di dunia maya seperti Instagram dan website, maupun dunia nyata seperti poster dan buku menu, terdengar masuk akal. Kami yakin komunikasi bahasa Inggris memudahkan kami berinteraksi dengan audiens di luar Indonesia; serta jajaran client, media, komunitas, dan market lokal yang memang punya preferensi komunikasi bahasa Inggris juga.
Terbukti juga dari satu pengalaman asik yang kami sangat bersyukur; ketika tiba - tiba dapet email dari Singapore, lalu berkesempatan melayani di Amazon Web Services Pop Up Loft Jakarta 2019. Ketika ditanya client ini tau kita dari mana, jawabnya: ‘We find you guys from the internet, and we like your brand.’ :’D
Selain itu ada pula beberapa prospek proyek yang sempat mampir dari Jepang, Sri Lanka, dan Amerika - karena mereka nemu kami di website dan Instagram, lalu mengerti pesan yang kami sampaikan dengan bahasa Inggris.
Eh tapi artikel ini, yang kamu temukan via Instagram dan website kami ditulis dalam bahasa Indonesia (yang *ehem* tidak baku tentunya). Kenapa?? Apa yang terjadi?!
3 tahun lebih membangun brand Three Folks, kami seringkali mengevaluasi bagaimana caranya untuk terus berkembang. Salah satunya adalah dengan berusaha menjadi semakin relevan dengan target market kami, sambil tetap berpegang teguh pada esensi brand kami.
Bahasa Indonesia (dengan kadar kebakuan ejaan yang kami nyaman) dirasa cocok dengan target market Three Folks dan persona kami bersama tim. Jadilah kami racik lagi resep tatanan bahasa dan mulai April 2020, kami komunikasi bilingual. Social media engagement kami meningkat, café pun semakin ramai. Literally keren, which is awesome.
KESIMPULAN
Membagikan 5 points di atas, membuat saya banyak mengingat perjalanan kami membangun brand Three Folks dari Februari 2017 (pertengahan 2016 malah kalau dari mulai bikin konsepnya). Layaknya lari marathon yang super panjang dan tiada henti, dilengkapi tongkat estafet dari kami yang harus bisa dioper suatu saat nanti.
Kami yakin konsistensi dalam membangun brand yang awet dan tahan banting memang penting; namun kemampuan adaptasi (ingat gurita) serta kelincahan untuk menjadi relevan tak kalah pentingnya.
Selanjutnya, kamu juga bisa intip artikel dari Landor ini untuk bikin brand kamu makin lincah dan sukses kedepannya.
8th Brew - Your Friendly Neighbour Coffee Place
Berada di Metropark Residence, coffee shop ini selalu memiliki daya tarik tersendiri. Dengan suasana yang hangat dan nyaman, mampir ke 8th Brew lebih mirip mampir ke rumah teman.
“Anak-anak kopi Jakarta Barat pasti mengenal Specialty Coffee Shop yang terletak di Apartemen Metropark Residence ini.”
8th Brew adalah salah satu coffee shop yang sering dihampiri oleh partner saya, Kuncoro, sebelum memulai Three Folks. Coffee Shop kecil dengan suasana yang nyaman dan hangat ini selalu memiliki daya tarik tersendiri.
Karena mampir ke 8th Brew hampir bukan seperti mampir ke coffee shop, tapi lebih mirip mampir ke rumah teman.
Minggu lalu, saya berkesempatan untuk ngobrol dengan co-founders dari 8th Brew: Iman dan Yosen - 2 sahabat yang mendirikan coffee shop ini.
Brewing Specialty Coffee Since 2016
Ide untuk mendirikan 8th Brew tercetus saat Iman dan Yosen masih bekerja sebagai karyawan bank - lebih persisnya saat mereka sedang ngobrol di bulan Juli 2016.
Ketertarikan untuk memulai bisnis coffee shop, berangkat dari melihat peluang di pasar specialty coffee yang luas. Saat kopi lebih umum dikenal sebagai minuman pahit, mereka ingin memperkenalkan specialty coffee melalui 8th Brew.
Setelah keliling Jakarta mencari Specialty Coffee Shop dan belajar barista skills, 8th Brew membuka pintu coffee shop -nya pada November 2016.
Why 8th Brew Coffee Shop?
Filisofi dari 8th Brew Coffee Shop tersirat pada logo.
Angka 8 di tengah melambangkan kopi yang mengalir tanpa batas (infinity). Bagian bawah melambangkan coffee cup dan huruf B. Bagian atas melambangkan portafilter dan huruf C.
Logo 8th Brew Coffee Shop secara keseluruhan menggambarkan kopi yang menetes ke cup secara terus menerus tanpa batas. Sesuai dengan harapan Iman dan Yosen yang dapat senantiasa menyajikan kopi melalui coffee shop ini.
Your Friendly Neighbour Coffee Place
“Kita memiliki visi menjadi your friendly neighbor coffee place,” kata Yosen. Mungkin toko2 lain memiliki strategi dalam metode atau SOP pelayanan terbaik untuk customer. Di 8th Brew, kami memilih mengenal tiap customer sebagai prioritas utama dalam pelayanan.
Saya dan Iman terjun langsung untuk mengerjakan operasional dan bertemu dengan tiap customer kita. Dalam 2 tahun pertama, kita mengenal hampir semua customer dengan akrab.
Sejak kita membuka cabang di Grogol tahun lalu, strategi ini mengalami perubahan. Kedekatan kami dengan tiap customer tetap kami jaga melalui barista-barista kepercayaan kami, sambil kami tetap melakukan komunikasi langsung dengan para pelanggan secara rutin.
Grow Alongside Customers
Dikarenakan lokasi yang berada dibawah Apartemen Metropark, banyak penduduk apartemen yang menjadi customers regular dan berkontribusi besar dalam perjalanan kami.
Ada 1 customer regular yang banyak membantu kami dalam menu development - karena beliau juga memiliki bisnis dalam bidang F&B. Ada lagi customer yang membantu kami di bagian keuangan, sebagai pengisi waktu luangnya. Dan masih banyak lagi.
Banyak sekali customers yang secara perlahan menjalin kedekatan dengan kami hingga berkontribusi secara aktif ( dan sukarela ) dalam perjalanan bisnis 8th Brew Coffee Shop. Kami meyakini ini semua dapat terjadi karena kedekatan yang kami bangun melalui pelayanan kami.
Best Time to Visit
Jam terbaik yang kami rekomendasikan bisa di pagi hari 8-10 atau sore hari 4-6. Untuk sore hari pemandangan kita bagus karena terkadang bisa melihat sunset. Tanah yang masih lapang disekitar gedung membuat banyak angin segar, membuat outdoor area kami jadi nyaman.
Salah satu kelebihan 8th Brew yang berlokasi di apartemen yaitu adanya kebun terbuka yang luas dan hijau, banyak tanaman - tanaman bunga sampai sayuran.
Parkiran juga tersedia dalam jumlah banyak, jadi aman untuk customer datang jam berapapun. Jam ramai agak sulit diprediksi, tapi kebanyakan di malam hari setelah jam kantor.
Future Plan
Saat ini, lokasi 8th Brew Coffee Shop ada 2. Apartemen Metropark Residence di Kedoya, Jakarta Barat, dan Jl. Makaliwe no 36 Grogol, Jakarta Barat.
Sebenarnya kami ada rencana untuk ekspansi ke daerah selatan. Tapi gara-gara pandemi, kami masih menganalisa peluang dan kondisi pasar dulu.
Kesimpulan
Saat semua orang berlomba-lomba membuat coffee shop besar dengan interior menarik, melihat 8th Brew menjadi sebuah kesegaran tersendiri. Sebuah coffee shop yang berfokus menyajikan specialty coffee sambil menjalin kedekatan dengan setiap customer mereka.
8th Brew menyajikan menu-menu espresso-based menggunakan coffee blend yang bold dengan sedikit taste notes buah-buahan - sesuai dengan selera customer regular mereka. Ditambah dengan beberapa filter coffee yang mereka rotasi dan kurasi dari berbagai specialty coffee roasters.
Di luar itu, 8th Brew juga memiliki berbagai kreasi menu seperti Kopi Susu, Hojicha, Chocolate, Chai, Avocado Coffee, dan masih banyak lagi. Menu lengkapnya dapat kamu lihat di sini.
Kalau kamu mencari kopi enak di Jakarta Barat dengan suasana hangat, punya pemandangan kebun dan angin sejuk, 8th Brew Coffee di Apartemen Metropark Residence bisa jadi opsi untuk kamu. Tim 8th Brew akan sangat senang menyambut kamu.
Tapi kalau mau nongkrong, nunggu PSBB berakhir ya.
Solusi 5 Kemalasan Operasional Pemilik Coffee Shop
Semangat mengurus operasional coffee shop biasanya hanya terjadi di awal. Kemudian akan diikuti dengan fase frustasi karena masalah tidak kunjung selesai. Yuk pelajari solusinya.
“Simpel banget bikin coffee shop. Tinggal cari tempat, beli mesin, ingredients dikit ga kaya restoran, training staff, gampang. Set up dan lancarin semua operasional dalam 1 bulan, abis itu bisa fokus ke marketing. Kalo café dah sukses dan brand udah terkenal, tinggal duplikasi deh. Ah mudah sekali ufufufu.”
Mudah-mudahan kamu tidak termasuk orang yang punya pemikiran polos seperti di atas ya (a.k.a. founders Three Folks). Percaya ga percaya, kami masih berkutat untuk menganalisa, mengontrol, dan meningkatkan performa operasional coffee shop kami sampai sekarang.
Maklum, pekerjaan yang membutuhkan detail dan ketelatenan memang di luar ekspertis kami (alasan). Butuh waktu yang cukup lama untuk keluar dari fase pemikiran "bodo amat" dan menutup sebelah mata untuk akhirnya serius menangani hal ini. Dan kalau ditelusuri penyebabnya, yaitu pemikiran seperti ini: malas, tidak menarik, saya buka coffee shop bukan untuk mengurusi hal tidak keren macam ini.
Jujur saja, development menu, kolaborasi, pengembangan bisnis adalah hal-hal yang menurut kami bertiga jauh lebih penting dan menarik. Kalau tamu makin ramai, brand makin terkenal, dan sales makin tinggi nanti operasional coffee shop juga akan lancar secara otomatis. Kalau misalnya boncos, nanti saja baru kita selesaikan - ini pemikiran yang benar-benar salah dan tidak masuk akal.
Optimalisasi operasional coffee shop adalah hal yang kelihatannya simpel, makanya suka jadi checklist yang diremehkan dan disisihkan. Tapi tidak kami sangka ternyata memperbaiki operasional coffee shop punya banyak keuntungan.
Perjalanan kami dalam melakukan hal susah-susah gampang ini ternyata adalah perjalanan yang membentuk tim coffee shop kami menjadi lebih cerdas, teliti, solid, dan menghasilkan berbagai keuntungan bagi brand Three Folks.
Tidak percaya? Yuk lihat perjalanan kami mengatasi 5 kemalasan operasional kami.
#1 Malas Cek SOP
SOP sudah dibuat, sudah ditulis dan di print dalam satu file yang rapi, sudah diajarkan ke tim barista dengan baik (rasanya). Ah selesai sudah 80% tugas operasional. Selanjutnya hanya tinggal mengontrol dan menyesuaikan.
Sayangnya ternyata membuat SOP pertama, mungkin hanya mencakup 20% dari tugas operasional coffee shop. Dan tidak mengetahui hal ini sempat membuat saya frustasi.
Seharusnya membersihkan kaca, mengecek WC secara berkala, mencuci gelas sampai bersih, mencuci lap setiap hari, menyapu lantai kalau kotor, menyiram tanaman, senyum ke setiap tamu, menjelaskan menu dengan baik, membuat produk sesuai resep, menyajikan tiap menu sesuai arahan plating adalah hal-hal mudah bukan? Tinggal baca SOP, pelajari, lakukan.
Dan begitu melihat hal-hal mudah ini tidak dilakukan dengan baik berulang kali, jengkel sekali rasanya. Berangkat sebagai owner coffee shop yang juga melakukan shift sebagai Barista 3 tahun lalu, dan berusaha mencontohkan setiap hari, hal ini bikin saya makin kesal.
Saat bisnis makin berkembang dan melepaskan diri dari tanggung jawab nge-shift sebagai barista, ini yang terlintas di otak: "Wah ternyata susah juga ngasih contoh tapi ga diikutin, malah jadi capek hati. Adanya coffee shop malah susah scale-up gara-gara terlalu sibuk di operasional. Mungkin lebih baik saya buat peraturan dengan denda saja. Harusnya beres."
Ternyata waw, hasilnya tidak beres juga. Malah tambah parah. Makin parahnya, sambil menutup sebelah mata, dan sesekali ngomel-ngomel, hal tersebut saya biarkan.
#2 Malas Kontrol Waste
Coffee Shop kamu pernah punya Revenue tinggi tapi profit minus? Bisa jadi, waste adalah salah satu penyebabnya.
Aneh sekali, waktu menghitung HPP saya sudah pastikan HPP kopi 25%, HPP makanan 30-40% dari harga jual. Lha ini kok biaya HPP bulanan bisa sampai 50%? Sudah cek rumus, ga ada yang salah. Sudah cek harga vendor, ga ada yang naik drastis.
Ah ini pasti staff ada yang nyolong! Seudzon seperti ini cepat sekali muncul di otak.
Finance Consultant kami pernah bilang, "Coba deh kalian lebih sering tongkrongin cabang-cabang coffee shop kalian yang boncos. Buat ngecek ni bocornya dari mana. Biasanya kasus-kaya gini penyebabnya bisa lumayan teknis banget seperti kebanyakan waste, salah persepsi saat baca resep, overstock. Atau ya seperti seudzon kalian - ada maling. "
Hmm ide bagus, tapi pasti ada cara yang lebih efektif dibandingkan tongkrongin coffee shop lama-lama. Saya buat SOP untuk catet waste, perketat disiplin Stock Opname, saya kasih target dengan bonus untuk bisa mengurangi HPP bulanan.
Dan seperti solusi dari kemalasan #1, tidak beres juga.
#3 Malas Training
Suatu hari saya pernah di-serve espresso oleh barista saya yang sudah bekerja cukup lama di Three Folks. Waktu saya minum, yah oke juga, ada beberapa hal yang bisa di improve, tapi masih oke.
Kemudian saya coba tanya, "Bro hari ini kalibrasinya gimana? Coba bisa jelasin taste notes espresso hari ini ga?" Tidak saya sangka responnya gugup sekali seperti mau dikasih SP-1, dan dia kebingungan mau jelasin apa.
Padahal seingat saya, saya sudah pernah berikan training module untuk dibaca. Bahkan udah pernah kasih sesi pelatihannya juga. Dan harusnya barista antusias mempelajari ilmu kopi bukan?
Setelah mengetahui efek kemalasan #3 ini, saya baru bisa mulai menyadari ada pattern yang menjadi penyebab kecacatan operasional di Three Folks. Tapi karena masih di level praduga, saya pikir: "Ah masa segitunya." Maka saya belum ambil tindakan serius.
Saat itu saya hanya memberikan barista tersebut insights untuk hal-hal yang bisa di improve, tapi tidak saya follow up perkembangannya.
#4 Malas Ngobrol sama Barista
Saya teringat pernah bekerja mengejar deadline di Three Folks sampai malam. Alhasil jadinya sekalian ngobrol sama tim sehabis closing.
Saya ga ingat waktu itu topiknya apa, tapi lewat proses "ngobrol" itu saya jadi berasa dekat sama tim. Dan salah satu dari mereka pun sempat ada yang nyeletuk,"Wah harus lebih sering nih ngobrol kaya gini. Seru banget."
Berangkat dari sana, saya kadang jadi mulai meluangkan waktu buat sering ngobrol. Bukan kenapa-kenapa, tapi saya merasa ada faedah atau potensi yang saya bisa gali lewat kegiatan "ngobrol" ini sebagai tim.
Buku Patrick Lencioni tentang 5 Dysfunction of a Team, mengungkapkan bahwa awal dari kejatuhan sebuah tim biasanya bukan karena sistem yang buruk. Hampir semua orang bisa membuat sistem yang canggih. Tapi kebanyakan gagal karena tidak adanya trust di dalam tim. Dan trust hanya bisa dibangun lewat keterbukaan satu sama lain secara personal. Sayangnya, banyak orang melihat ini sebagai sesuatu yang "lembek" dan tidak berguna.
Membaca buku ini lumayan menampar, karena hal inilah yang saya lakukan pada tim coffee shop saya. Hanya berkutat di sistem dan peraturan. Saat ada masalah, yang dibenahi hanya melulu sistem dan peraturannya. Terus begitu berputar, dan tidak ada masalah yang kunjung selesai. Dan tidak terlintas di otak saya kalau sistem hanyalah pelengkap dari apa yang seharusnya menjadi esensi dalam menjalankan sebuah tim.
Dan terbukti, dengan semakin intens kegiatan "ngobrol" yang saya lakukan, semakin terjalin trust dalam tim, semakin tumbuh sense of belonging setiap barista yang bekerja di Three Folks.
Dari sini baru mulai terlihat progress dari keseluruhan operasional coffee shop. SOP dijalankan tanpa disuruh (bahkan tanpa pakai form), inisiatif-inisiatif untuk melakukan efisiensi cost mulai muncul, dan tim secara aktif berinteraksi untuk melakukan improvement dari berbagai aspek.
#5 Malas Evaluasi
Ngobrol sama barista aja malas. Boro-boro kepikiran untuk melakukan evaluasi. Tapi setelah mengetahui pentingnya "ngobrol" sama tim, saya makin yakin kalau tindakan "ngobrol" ini harus jadi core segala aktivitas operasional coffee shop.
Satu hal yang saya temukan: bukan berarti dengan kita udah bisa "ngobrol" sama barista, dan trust terbangun, otomatis operasional coffee shop akan berjalan dan berkembang dengan lancar. Kalau membangun trust adalah inisiator utama operasional akan dijalankan dengan baik, maka evaluasi adalah akselerator untuk mencapai operational excellence.
Setiap barista memiliki impian, kelemahan, kelebihan, dan keunikan masing-masing. Ada barista yang lebih kritis membersihkan area dan merawat tanaman, ada yang lebih ahli dalam administrasi, ada yang lebih ahli dalam service, ada yang lebih jago dalam membuat kopi.
Mengetahui hal-hal ini, berbagi insights untuk improvement secara berkala, meminta feedback kritis, dan selalu memicu kolaborasi antar tim adalah hal terbaik yang bisa kamu lakukan untuk meningkatkan performa operasional coffee shop kamu.
Karena sistem yang canggih hanya bisa dieksekusi oleh Super Team. Dan Super Team inilah yang harus kamu bangun.
Kesimpulan
Memiliki tim barista yang saling membangun adalah hal terbaik yang bisa dimiliki oleh sebuah coffee shop. Karena tim ini juga akan memicu semangat kamu untuk melakukan yang terbaik. Kamu makin terpacu untuk memperbaiki berbagai format SOP, melakukan training, menciptakan sistem, melakukan kontrol dan evaluasi - karena tim barista kamu juga melakukan yang terbaik dalam melakukan tanggung jawab yang kamu berikan pada mereka.
Keuntungan dari optimalisasi performa operasional ini tidak hanya akan terlihat pada laporan keuangan, tapi juga dari kepuasan setiap tamu yang datang ke coffee shop kamu. Karena setiap tamu kamu di-serve oleh tim barista yang memiliki semangat dan antusiasme tinggi dalam bekerja.
Mungkin beberapa dari kamu yang membaca masih berpikir: "Ah kayanya ada cara yang lebih efektif dan efisien untuk optimalisasi performa operasional coffee shop gue."
Mungkin kamu benar, mungkin saja cara yang kami pakai bukanlah cara terbaik. Mungkin ada sistem yang lebih luar biasa lagi tapi belum mampu kami ciptakan. Dan saya mengerti tantangan untuk menyediakan emotional capacity untuk "ngobrol" dan melakukan evaluasi untuk tim barista kamu di tengah kesibukan sebagai owner coffee shop bukanlah hal yang mudah.
Tapi menurut kami, membangun tim berasaskan trust adalah cara yang terbaik untuk Three Folks.
5 Realita Barista yang Kamu Tidak Lihat
Tidak ada cara terbaik untuk memahami industri kopi selain menjadi barista. Tidak hanya mengasah ilmu kopi dan berinteraksi langsung dengan customer, menjadi barista akan menumbuhkan disiplin dan kualitas diri.
“Keren banget ya jadi Barista. Melihat mereka menyeduh kopi dengan ahli di coffee bar yang keren seperti menonton seorang artis yang lagi perform."
Kalau kamu seperti saya, keinginan menjadi barista bisa jadi juga adalah pintu pertama kamu berkecimpung di dalam industri kopi. Kalau iya, kamu sudah berada di langkah yang tepat.
Profesi apapun yang ingin kamu jalani di dalam dunia kopi, ada satu proses yang menurut saya tidak boleh dilewatkan. Dan proses itu adalah bekerja sebagai barista.
Tidak ada cara terbaik untuk memahami industri kopi secara menyeluruh dan mendalam selain merasakannya sendiri dengan menjadi barista. Selain mengasah ilmu kopi dan berinteraksi langsung dengan customer, menjadi barista akan menumbuhkan disiplin dan kualitas diri yang kamu butuhkan.
Artikel ini akan membahas beberapa realita yang tidak diketahui banyak orang mengenai profesi idaman ini. Dan harus kamu rasakan sendiri untuk berkarir lebih lanjut di dunia kopi.
Kalau coffee shop buka jam 8 pagi, berarti barista sudah harus sampai dari jam 7 pagi. Karena banyak yang harus dipersiapkan. Mulai dari bersih-bersih, set up mesin dan peralatan, cek semua station, set up kasir, AC, lagu, wi-fi, cek stok, prep, kalibrasi, hingga briefing pagi.
Kalau coffee shop tutup jam 11 malam, barista bisa baru pulang sampai jam 1 pagi. Checklist untuk closing memang jauh lebih banyak lagi dibandingkan opening. Belum lagi kalau ada tamu-tamu bandel yang ga pulang-pulang setelah diinformasikan dengan sopan dan dipasangi lagu Home by Michael Buble kencang-kencang.
Weekend? Libur? Pffttt.. Mimpi. Dan biasanya hal ini memang dilarang oleh owner coffee shop. Karena biasanya traffic weekend yang ramai mengharuskan seluruh tim untuk masuk dan bekerja.
Kehidupan Barista bukan untuk kamu, kalau masih punya angan-angan libur setiap melihat tanggal merah di kalender.
Mari kita catat apa saja yang perlu dibersihkan oleh barista: lantai, kursi, meja, kusen pintu, jendela, tembok, segala rak, AC, kipas angin, exhaust, gudang, chiller, freezer, meja bar, mesin dan peralatan kopi, gelas, piring, sendok, garpu, apron, lap, teras depan. Tergantung keunikan tiap coffee shop, pasti ada lagi perintilan tambahan.Tidak lupa dengan sahabat karib semua barista: WC dan Grease Trap.
Kamu bisa baca artikel khusus tentang relasi Barista dan Grease Trap di sini. :)
"Saya hanya mau bikin kopi saja, gak mau bersih-bersih seperti itu. Ya maksimal cuci gelas deh." Mental manja seperti ini akan membuat kamu sulit diterima kerja, dan tidak akan bertahan lama di industri ini. Karena kopi yang enak dan kebersihan adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam industri hospitality.
Barista yang sudah veteran tidak hanya dinilai dari kemampuan bikin kopinya saja, tapi juga kecekatan dan ketelitian matanya dalam mendeteksi berbagai macam noda. Mereka juga biasanya memiliki ilmu-ilmu sendiri untuk mengangkat noda-noda dari sudut teraneh dari sebuah coffee shop.
Skill ini sekarang semakin diapresiasi gara-gara Covid-19.
Sebuah coffee shop yang memorable, adalah coffee shop yang dapat menyajikan kopi enak setiap hari dan setiap saat. Tugas Barista sebagai penyeduh kopi adalah memastikan hal tersebut tercapai dengan baik dan konsisten. Bagaimana caranya? Kalibrasi setiap hari.
Buat yang belum tahu, kalibrasi adalah proses yang dilakukan untuk mencari resep kopi yang ideal untuk digunakan pada hari itu. Kalibrasi harus dilakukan setiap hari karena kopi merupakan bahan organik dan memiliki sifat yang dapat berubah setiap hari. Dalam proses kalibrasi termasuk juga mencicipi kopi berulang kali hingga menemukan resep yang pas.
Barista yang sudah ahli biasanya dapat menggunakan metode "spitting". Yaitu hanya mencicipi kopi dengan menyeruput kemudian dibuang ke "spit glass". Namun keahlian ini tidak mudah didapatkan bagi barista-barista pemula. Kebanyakan barista membutuhkan proses meminum untuk benar-benar mengetahui rasa kopi.
Berapa kali barista melakukan kalibrasi? Tergantung. Kalau beruntung sekali juga cukup, kalau apes bisa 10 kali. Karena bukan hanya cari resep awal, kadang ada saja kejadian seperti: ganti biji kopi di tengah shift, rasa espresso tiba-tiba berubah di siang hari, dan lain-lain.
Proses ini yang kadang bikin perut barista ekstra lancar setiap setelah kalibrasi.
Pernah coba baca-baca buku kopi? Tebal ya. Dan biasanya ilmu dalam satu buku kopi harus divalidasi lagi dengan perbedaan-perbedaan teknis yang terjadi di lapangan dan ilmu dari sumber lain. Kompleksitas kopi dan kecepatan perkembangan industrinya menyebabkan edukasi mengenai kopi menjadi hal yang seru-seru rumit.
Seperti kata Agnieszka Rojewska, peran seorang barista adalah menjadi jembatan antara industri kopi dengan customer. Untuk menjalani peran ini dengan baik, maka tiap barista harus jadi seorang yang mengerti sejarah, segala macam terminologi, proses hulu ke hilir, mesin, metode seduh, dan selalu up to date dengan segala perkembangan yang ada.
Itu baru tentang kopi. Seorang barista yang pro harus paham, mengerti, dan ahli dalam memberikan customer service, dan melakukan kewajiban sesuai SOP yang ada.
Menjadi barista tidak boleh hanya belajar kopi, banyak kualitas yang harus ditumbuhkan seperti public speaking, kerja sama, disiplin, empati, multitasking, administrative skills, problem-solving mindset.
Penilaian pertama perihal profesionalitas adalah senyum di wajah. Customer kadang bisa mudah sekali menilai sebuah barista atau bahkan keseluruhan coffee shop dari hal ini. Tapi memang senyum di wajah barista sangat mempengaruhi good vibes sebuah coffee shop.
Padahal mereka bukan boneka ya masa harus senyum mulu. Gimana kalau ada yang habis putus sama pacar? Berantem dengan teman kerja? Ada masalah keluarga?
Yah, begitulah. Ga ada customer yang peduli, adanya mereka komplain karena ga disenyumin. Dan memang mereka tidak punya kewajiban untuk peduli. Setiap customer datang ke coffee shop dengan masalah masing-masing dan berharap untuk dapat melepaskan sedikit dari masalah mereka. Bayangkan kalau disambut sama barista yang mukanya ketekuk kaya bungkus gorengan.
Profesionalitas barista sangat ditentukan dari bagaimana mereka dapat melakukan disiplin-disiplin barista dengan gigih, konsisten, dan ceria setiap hari. Dan badai kehidupan personal tidak boleh menghalangi mereka untuk dapat bekerja dengan maksimal.
Senyum di wajah juga tidak boleh hilang saat bertemu dengan pendekar kopi, diajak ngobrol saat sedang manual brewing, diminta foto-foto saat orderan masih banyak, diomelin customer, perut mules, kaki mau copot, dan lain-lain.
Kesimpulan
Selain 5 hal di atas, realita barista yang bikin geleng-geleng adalah gajinya. Berdasarkan survey kecil-kecilan saya tahun lalu, rata-rata gaji barista di Jakarta adalah Rp 2,5 juta per bulan. Semoga tahun ini sudah membaik ya.
Berita baiknya, industri kopi di Indonesia terus berkembang dengan pesat. Dan dengan demikian, berbagai peluang dan karir di industri kopi pun semakin terbuka lebar. Kamu dapat baca beberapa insight peluang dari sini.
Kalau kamu memang serius dan suka sama kopi, kamu akan terus memiliki motivasi belajar dan mengejar peluang-peluang yang ada untuk mengejar mimpi kamu.
Bekerja menjadi barista akan menguji mental kamu sebagai pelaku di industri kopi. Orang yang tidak sanggup melampaui tantangan-tantangan menjadi barista dan berkembang melalui pengalaman tersebut, akan kesulitan meraih kesuksesan di industri kopi.
Disiplin, empati, kegigihan, kerendahan hati, dan apresiasi adalah kualitas penting yang dibutuhkan di industri ini.
Park Saeroyi - Sosok Pemimpin Impian
Bisnis apapun, termasuk coffee shop, membutuhkan sosok pemimpin. Dan tokoh Park Saeroyi melalui film Itaewon Class, memberikan pelajaran mengenai karakter-karakter yang harus dimiliki seorang pemimpin.
"Kalau ada jagoan di dunia nyata, mungkin orang tersebut adalah sosok seperti Park Saeroyi."
Menonton Park Saeroyi di film Itaewon Class terasa seperti ditampar berkali-kali.
Hampir semua anak kecil punya impian, dilengkapi dengan kepercayaan bahwa dirinya adalah seorang pembela kebenaran. Dengan bermodalkan kegigihan untuk selalu berpegang pada apa yang benar, setiap kesulitan, tantangan, dan godaan dapat dikalahkan untuk mencapai impian tersebut.
Namun kalau sekarang ditanya, apakah kita masih percaya akan hal tersebut? Kebanyakan orang mungkin akan menjawab “hehe” *sambil garuk-garuk kepala, karena merasakan kemustahilan hal tersebut. Dan Park Saeroyi adalah seorang sosok yang berhasil mematahkan semua paradigma tersebut.
Bisnis apapun, termasuk coffee shop, membutuhkan sosok pemimpin seperti Park Saeroyi. Dan tokoh Park Saeroyi melalui film Itaewon Class memberikan pelajaran dengan sangat epik mengenai karakter-karakter yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.
Apa saja karakter-karakter tersebut? Ini beberapa hal utama yang saya tangkap dari karakter fenomenal ini.
Prinsip-prinsip hidup Park Saeroyi terbentuk dengan kental melalui pelajaran yang diberikan oleh ayahnya. Kita dapat melihat karakter ini ditunjukkan berulang kali sepanjang Itaewon Class. Kejujuran, membela yang lemah, memperhatikan orang lain, memperjuangkan keadilan, dilengkapi dengan keteguhan dan kepercayaan diri dalam memegang prinsip-prinsip tersebut.
Kalau dilihat secara keseluruhan, perjalanan hidup dan pengembangan diri Park Saeroyi merupakan hasil dari interaksi antara kejadian hidup dan prinsip-prinsip tersebut.
Banyak sekali kesulitan yang dialami oleh Park Saeroyi saat ia memutuskan untuk berpegang teguh pada prinsipnya. Dikeluarkan dari sekolah, Ayahnya dipecat, dipenjara, pubnya disegel. Dan banyak sekali kejadian-kejadian dimana Park Saeroyi dapat mengalami kemudahan hidup dengan mengambil jalan yang lebih "lazim".
Tapi keteguhan hati Park Saeroyi untuk tidak merasionalisasi tindakan buruk dan memberikan toleransi pada dirinya, membuat dirinya menjalani proses pembentukan diri yang luar biasa. Dan dalam setiap proses tersebut, Park Saeroyi menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekitarnya. Keteguhannya dalam memegang prinsip melahirkan kepercayaan dan loyalitas bagi seluruh karyawannya.
Kalau kita kesampingkan persoalannya balas dendamnya ( ya namanya juga drakor ), salah satu karakter Park Saeroyi yang wajib menjadi panutan adalah keberaniannya untuk memiliki impian yang besar.
Ia bermimpi untuk mengalahkan Jangga Co, sebuah brand pub nomor 1 di Korea. Dan ia ingin membuktikan bahwa ia dapat mengalahkan Jangga Co dengan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip dirinya.
Hal ini menjadi sangat luar biasa karena impian ini tercetus di kepala Park Saeroyi saat ia baru saja masuk penjara. Status sebagai mantan narapidana yang merupakan salah satu strata terendah dalam masyarakat, tidak mengecilkan hati Park Saeroyi untuk mengejar impiannya.
Impian tersebut menjadi bahan bakar dalam diri Park Saeroyi untuk melampaui setiap tantangan. Kita dapat melihat bagaimana ia memanfaatkan setiap waktu dalam hidupnya untuk membuat dirinya selangkah lebih dekat menuju impiannya.
Keberanian dan kepercayaan dirinya dalam bermimpi membuat Park Saeroyi dapat memiliki pandangan hidup yang lebih positif, mengambil keputusan dengan lebih berani, dan terus menerus mendorong diri dan timnya untuk berjuang.
Dalam mengejar mimpinya, Park Saeroyi memiliki kesadaran penuh bahwa perjalanannya bukanlah perjalanan yang mudah dan instan. Untuk betul-betul memahami mengenai kegigihan yang dimiliki Park Saeroyi kita harus bisa menganalisa lebih dalam mengenai pola pikir Park Saeroyi di hari ia menemukan impiannya.
Kualitas kegigihan Park Saeroyi bukan cuma sekedar pantang menyerah mengejar tujuan, tapi didasarkan atas keberaniannya untuk melihat fakta yang menyakitkan tanpa kehilangan harapan.
Ia melihat dengan jelas bahwa dirinya hanyalah lulusan SMP, dipenjara, dan akan mengalami berbagai kesulitan karena menyandang status mantan narapidana. Selain itu, lawannya adalah perusahaan nomor 1 di Korea. Tapi Park Saeroyi tidak pernah kabur atau menghiraukan isu tersebut sedikitpun.
Ia menghadapinya dengan memahami segala fakta yang ada dan membuat rencana yang matang untuk melampaui segala kondisi tersebut. Hal ini tidak hanya ditunjukkan melalui perjuangannya selama 10 tahun sebelum membuka pub pertamanya, tapi juga selama perjuangannya sepanjang seri Itaewon Class.
Dalam usahanya melampaui kondisi-kondisi tersebut, Park Saeroyi berulang kali ditunjukkan memiliki semangat yang tidak dapat digoyahkan, hingga berulang kali disebut keras kepala oleh teman-temannya. Dan kegigihan ini jugalah yang membuat orang-orang di sekitar Park Saeroyi menjadi kagum dan tertarik untuk selalu membantunya.
Meskipun anti sosial dan cuek, salah satu hal yang membuat karakter Park Saeroyi sangat keren adalah kerendahan hatinya yang tidak pernah hilang.
Bisa dibilang, kerendahan hati Park Saeroyi adalah salah satu kunci dirinya bisa terus berkembang dan mendapatkan kepercayaan dari bawahannya.
Sepanjang film seri ini, kita berulang kali melihat Park Saeroyi menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa sebagai pemimpin: tidak keberatan untuk menerima pendapat, mengakui dan meminta maaf atas kesalahannya, selalu bersedia untuk mendengarkan keluh kesah karyawan, terlibat dalam segala proses perjuangan perusahaannya termasuk dalam pekerjaan-pekerjaan kecil. Hal ini juga sangat jelas digambarkan saat ia membantu bisnis di sekitarnya, agar area usahanya menjadi ramai.
Kerendahan hati jugalah yang mengizinkan Park Saeroyi bertumbuh bersama dengan timnya. Dan bisa dibilang, kerendahan hati Park Saeroyi juga mendasari karakternya yang ke-5: People Oriented.
Park Saeroyi menyadari dari awal bahwa ia tidak dapat membangun sebuah bisnis sendirian. Ia membutuhkan berbagai macam orang yang dapat melengkapi kekurangannya.
Ia percaya dengan sungguh-sungguh akan suatu pelajaran penting dari ayahnya, bahwa: hal terpenting dari sebuah bisnis adalah hubungan antar manusia dan rasa percaya. Dan ia memiliki komitmen yang tinggi untuk membangun hal ini dari awal dengan timnya.
Kita dapat melihat kepercayaan ini mendasari beberapa tindakan Park Saeroyi yang terkesan tidak rasional, tapi membuat timnya semakin matang.
Beberapa contohnya adalah saat ia memberikan gaji dua kali lipat pada Hyu Yin agar ia bekerja dua kali lipat lebih keras dan menjadi cook yang lebih handal, memaafkan kesalahan Seung Kwon saat menerima tamu di bawah umur, mempercayakan keputusan-keputusan besar kepada Yi Seo, menerima Kim Toni sebagai pegawai.
Hal ini juga dicerminkan dari bagaimana Park Saeroyi selalu bersedia berargumen, siap melindungi timnya, dan tidak lupa merayakan keberhasilan bersama mereka.
Banyak resiko yang diambil oleh Park Saeroyi saat ia memutuskan untuk mementingkan pertumbuhan timnya. Bahkan ia tidak ragu-ragu untuk mengesampingkan ambisi pribadi dan kesuksesan yang lebih cepat demi orang-orang kepercayaannya. Tapi pada akhirnya, ia berhasil membangun bisnisnya menjadi besar bersama orang-orang yang ia percaya.
Salah satu kesuksesan dari kepemimpinan Park Saeroyi adalah menumbuhkan kesetiaan dan menularkan kepemimpinan bagi para pengikutnya.
Itaewon Class juga ingin mengajarkan bahwa people oriented business, pada akhirnya akan selalu mengalahkan profit oriented business.
Kesimpulan
Yang membuat karakter Park Saeroyi sangat mencengangkan adalah kemampuannya untuk berada di dua ekstrim kepribadian: kemauan yang tak tergoyahkan dan kerendahan hati. Buku Good to Great karya Jim Collins menyebutkan bahwa karakter ini adalah kualitas yang wajib dimiliki dan terus menerus ditumbuhkan oleh seorang pemimpin.
Selain 5 karakter di atas, profesionalitas dan disiplin Park Saeroyi juga tidak boleh dipandang sebelah mata. Kelebihannya dalam melakukan hal ini juga berperan besar dalam menjadi contoh yang baik bagi seluruh karyawannya.
Coba ingat-ingat lagi. Park Saeroyi tidak pernah datang terlambat atau bolos, pernahnya malah ga pulang.
Menjadi pemilik sebuah coffee shop, berarti menjadi pemimpin dan panutan bagi seluruh tim yang akan kamu rekrut. Kegigihan kamu mengejar impian dan keteguhan hati kamu untuk tetap memeluk prinsip dalam menghadapi tantangan, akan mencerminkan seberapa serius kamu menjadi pemimpin.
Setelah nonton Itaewon Class, rasanya jadi termotivasi untuk bisa membangun diri menjadi pemimpin seperti Park Saeroyi. Menjadi pemimpin yang dapat menginspirasi orang sekitarnya menjadi lebih baik.
P.S. Ada dua hal yang perlu kamu perhatikan agar tidak salah mengambil kesimpulan:
Memiliki potongan rambut poni rata tidak akan menumbuhkan karakter pemimpin.
Memiliki bekas-bekas luka di tubuh juga tidak akan membuat wanita jatuh cinta.
5 Spesies Partner yang Bisa Bikin Bisnis Coffee Shop Bangkrut
Analisa partner bisnis coffee shop kamu dan hindari 5 spesies di artikel ini untuk menghindari musibah di kemudian hari.
"Kalau kamu buka coffee shop sendiri, mungkin kamu lebih sans. Tapi kalau kamu joinan, ada baiknya kamu analisa lagi partner atau calon partner kamu."
Bisnis Coffee Shop memang memiliki daya tariknya tersendiri. Selain memiliki tempat chill kepunyaan sendiri, bisa ngopi tiap hari, memiliki potensi profit yang menarik, bisa juga jadi sumber kebanggaan tersendiri.
Daya tarik ini menyebabkan berbagai macam orang terjun ke industri coffee shop. Dan hal ini jugalah yang menciptakan setiap coffee shop memiliki keunikannya masing-masing.
Masalahnya bisnis coffee shop juga menarik bagi spesies - spesies manusia berbahaya yang bisa bikin sebuah coffee shop bangkrut.
Kamu pernah lihat suatu coffee shop yang sukses dan terlihat ramai, lalu tiba-tiba tutup? Atau coffee shop yang interior + mesin-mesinnya keren dan mahal, tapi kualitas produk dan pelayanannya tidak baik? Bisa jadi, tempat-tempat tersebut terinfeksi oleh spesies-spesies manusia di bawah ini.
"Panggil Gue Aja Bro Kalau Butuh Bantuan"
Begitu katanya setiap hari sambil pamit, setelah 1 jam melihat-lihat kondisi coffee shop. Tapi kenyataanya kalau ditelpon tidak pernah diangkat, kalau dichat balasnya satu abad kemudian. Sekalinya balas, jawabannya antara ga lengkap atau ga jelas.
Biasanya spesies-spesies seperti ini terlihat prospektif untuk diajak buka usaha karena kemampuan intelektualnya yang tinggi dan koneksinya yang banyak. Idenya banyak dan ahli meyakinkan orang saat rapat. Tapi sayang, eksekusi dan komitmennya minus.
Kerjaannya tidak pernah beres, tapi selalu terlihat santai dan tanpa beban. Yah, mungkin karena ga benar-benar peduli juga.
Kalau dimintai tolong biasa jawaban yang paling populer adalah:” kayanya ini bukan jobdesc gue deh.”
Sibuk Sendiri
Spesies ini rajin banget. Selalu sibuk. Ngebar, bikin resep, bikin laporan keuangan, bikin strategi marketing, ngurus Instagram. Ga kebayang deh coffee shop gimana berjalannya kalau ga ada dia. Tapi ya gitu,semuanya dikerjain. Kerjaan partner yang lain pun dibabat. Kemudian merasa kesal karena merasa tidak ada yang membantu.
Kalau ide ditolak, langsung ngambek. Kalau diberikan input, langsung bete. Manusia-manusia ini memiliki sense of ownership dan tanggung jawab yang tinggi. Tapi ketinggian. Sangking tingginya, ia melihat yang lain ada di bawah dirinya.
Sulit sekali kalau mau brainstorming atau evaluasi dengan spesies ini. Dalam rapat, biasanya spesies manusia ini akan sangat dominan dan merendahkan yang lain.
"Apa Gue Bilang"
Saat rapat, spesies ini hampir tidak pernah mengeluarkan ide atau mencoba aktif mengkritisi. Bisa dibilang keberadaanya seperti batang kayu. Hanya mengikuti arus yang mengalir. Kalau mengeluarkan komentar biasanya seputar," Bagus tuh, bener ide lu." Atau, " Wih sabi, kece tuh."
Kalau orangnya sebenarnya suportif sih tidak apa-apa. Yang bahaya adalah kalau suatu ide gagal, orang-orang ini akan mengeluarkan jurus rahasia: "Apa gue bilang. Gue juga ga terlalu setuju sama ide itu sebenernya."
Dan jurus rahasianya dikeluarkan sambil bisik-bisik saat nongki bersama teman-temannya. Kalau ditanya kenapa dia tidak menyampaikan idenya saat rapat, biasanya jawabannya:"Gue ga suka debat."
Setiap ada meeting pasti datang. Tapi saat harus mengambil keputusan penting, kerjanya hanya terdiam seperti mesin kopi rusak.
Bagi Profit: YES! Rugi: *Menghilang
Spesies-spesies manusia ini sangat to the point dan anti basa basi. Pertanyaannya sehari-hari Cuma 2: Penghasilan udah berapa dan kapan bagi profit.
Isi otaknya duit melulu, mengerti sedikit akuntasi, dan gamau tahu mengenai operasional. Solusi utamanya kalau rugi biasanya mulai dari ngurangin staff sampe melipir kriminal: potong gaji barista, curangin pajak, hutangin vendor.
Manusia-manusia ini punya kebanggaan tersendiri karena bisa melihat bisnis secara rasional dan anti manusiawi. Biasanya juga cukup ekspert dalam memberikan tekanan-tekanan tidak perlu dan menunjuk kesalahan.
Menghindari Tanda Tangan Kontrak
Spesies tipe ini jago banget ngeles, menghindar, dan bersembunyi bagaikan ninja setiap topik tanda tangan kontrak diangkat.
Manusia yang menghindar atau menolak tanda tangan kontrak, biasanya adalah partner bisnis yang paling berbahaya.
Entah apakah ada yang disembunyikan atau dia sudah memikirkan exit plan paling cepat tanpa perlu bertanggung jawab kalau bisnis suatu saat bangkrut. Apapun alasannya, menghindari tanda tangan adalah indikasi bahwa manusia tipe ini tidak dapat dipercaya.
Sehebat apapun portofolionya, atau seakrab apapun dengan kamu, jangan pernah terjebak untuk buka bisnis coffee shop bersama manusia ini.
Kesimpulan
Keberadaan spesies-spesies manusia di atas pada awalnya memang tidak memberikan dampak berarti. Tapi lama kelamaan, kamu akan merasakan ketidaknyamanan dan kegelisahan. Terutama di saat kondisi finansial coffee shop tidak baik. Keberadaan mereka bisa dengan mudah menciptakan suasana yang negatif yang berakibat ketidakbijaksanaan dalam mengambil keputusan.
Kesepakatan membuka bisnis coffee shop dengan manusia-manusia seperti mereka biasanya terjadi karena hubungan pertemanan, kekurangan modal usaha, atau tertipu gara-gara janji manis dan portofolio yang menjanjikan. Dan repotnya lagi, memutus hubungan kerja sama di tengah jalan biasanya memakan waktu, uang, dan tenaga.
Saran saya, lakukan 3 langkah di bawah ini saat memilih partner bisnis coffee shop kamu
Setarakan visi dan value
Tentukan Job Desc dan KPI masing-masing
Tanda tangan kontrak kerja sama menggunakan notaris
Dengan melakukan 3 hal di atas, setidaknya kamu bisa melakukan seleksi yang lebih baik. Misalnyapun terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kamu bisa melakukan evaluasi bersama berdasarkan 3 hal tersebut.
Jangan terburu-buru dalam mencari partner bisnis coffee shop. Kalau kamu membuka usaha dengan tujuan menjadi besar, partner yang kamu butuhkan adalah seseorang yang dapat kamu percaya, memiliki visi dan value yang sama, siap berargumen secara konstruktif, dan selalu ada di saat dibutuhkan.
Menjadi Idealis yang Adaptif
Kenapa kamu membuka coffee shop? Jawabannya akan menentukan bagaimana nasib bisnis kamu.
Baiklah, jadi kamu sudah yakin akan membuka sebuah bisnis coffee shop. Dan tidak ada seorangpun yang mampu mengubah pikiranmu.
Sekarang, apa langkah pertama yang harus kamu lakukan? Dalam 2 artikel Weekly Flog sebelumnya, saya menyebutkan kalau memiliki pola pikir yang tepat adalah checklist pertama.
Seperti kebanyakan orang, ini langkah yang saya sepelekan di awal. Melalui artikel ini, saya ingin meyakinkan kamu betapa pentingnya langkah ini dengan membandingkan 2 kisah pengusaha di bawah:
Arturo si oportunis yang reaktif
Nairobi si idealis yang adaptif
Arturo si Oportunis yang Reaktif
Arturo merupakan seorang manager yang ahli dalam menciptakan sistem. Ia melihat peluang besar dalam industri kopi dan jatuh cinta pada kopi karena sering menghampiri berbagai coffee shop. Pada suatu hari, ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan membuka sebuah bisnis coffee shop.
Dari proyeksi yang Arturo buat, Arturo merasa bisa mendapatkan keuntungan yang lumayan. Dengan kemampuan tinggi dalam pembuatan sistem bisnis dan pemahamannya akan kopi, Arturo telah memiliki impian untuk membuat bisnis coffee shop miliknya menjadi besar dan sukses.
Peluang Menghampiri Arturo
Bisnis coffee shop Arturo berjalan dengan baik. Berkat kecanggihan sistem yang dibangun, Arturo dapat mengautomisasi bisnis coffee shop miliknya dalam jangka waktu yang pendek. Ini membuat Arturo bisa berfokus pada pengembangan usahanya.
Melihat kesuksesan Arturo, banyak investor yang tertarik bekerja sama dengan Arturo. Setelah berhitung dan membuat skema keuangan dengan baik, Arturo pun memutuskan untuk melebarkan sayap bisnis coffee shop miliknya melalui dana para investor.
Di sini masalah dimulai.
Membuka banyak cabang ternyata tidak mudah. Tim dadakan yang dibentuk oleh Arturo tidak berhasil mengimplementasikan sistemnya dengan baik. Banyak masalah mulai menimpa Arturo secara bertubi-tubi.
Mulai dari karyawan yang mencuri uang penjualan hingga ketidakpuasan customer yang tidak ditangani dengan baik. Kerugian dan masalah operasional terjadi dimana-mana, belum lagi Arturo harus berhadapan dengan investor untuk melakukan pelaporan.
Kejatuhan Arturo
Dengan impian membesarkan bisnis coffee shop, dan kepercayaan dirinya dalam membangun sistem, Arturo tidak mau menyerah. Ia bertekad untuk fokus dan mengatasi semua masalah yang ada.
Di tengah usahanya membenahi bisnis coffee shop miliknya, seorang pengusaha menghampiri Arturo menawarkan sebuah peluang bisnis. Melihat proyeksi pendapatan yang dapat dihasilkan, Arturo pun merasa tergiur.
Akhirnya, Arturo memutuskan untuk mengambil peluang tersebut. Ia segera membuat skema dan perkiraan agar ia bisa mengejar peluang baru ini dan mengatasi bisnisnya secara bersamaan.
Di sini lah Arturo jatuh dan kehilangan semua bisnisnya.
Arturo tidak dapat menyelesaikan permasalahan di bisnis coffee shop miliknya. Ia pun tidak optimal dalam mengerjakan peluang bisnis barunya. Akhirnya, Arturo kehilangan kepercayaan dari para investor, partner bisnis dan karyawannya. Kerugian yang dihasilkan begitu besar, sehingga Arturo terpaksa menutup bisnis coffee shop miliknya.
Kasihan Arturo, bisnis coffee shop yang sempat menjadi besar dengan cepat, tiba-tiba hilang begitu saja.
Nairobi si Idealis yang Adaptif
Setelah berpikir dengan matang, Nairobi akhirnya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan membuka sebuah coffee shop. Selain mengejar peluang bisnis di industri kopi, kecintaan Nairobi pada kopi didasari pada keinginannya untuk menciptakan tempat pertemuan yang bermakna bagi banyak orang.
Dalam mengejar idealismenya, Nairobi membangun fundamental bisnisnya secara serius. Ia mengintegrasikan idealisme tersebut ke segala aspek bisnisnya. Pelan tapi pasti, kualitas bisnis coffee shop Nairobi semakin berkembang ke arah yang ia inginkan.
Bisnis Nairobi Berkembang Melalui Kesulitan
Meskipun banyak investor ingin bekerja sama dengan Nairobi, namun ia menolak. Nairobi memiliki keinginan untuk membesarkan bisnisnya. Tapi ia ingin membangun tim dan bisnisnya semakin solid dan matang terlebih dahulu.
Beberapa kali kesulitan menerpa, hingga Nairobi tidak menerima pendapatan selama berbulan-bulan. Tapi Nairobi tetap teguh dalam menjalankan bisnis seuai dengan visi yang ia tetapkan.
Di masa kesulitan tersebut, Nairobi terus melakukan adaptasi agar bisnisnya tetap bertahan, tanpa mengubah nilai inti dari bisnis coffee shop miliknya. Dan dengan mengatasi berbagai kesulitan tersebut, Nairobi dan timnya menjadi semakin solid dan matang dalam menjalankan bisnis coffee shop.
Pada tahun ke-3, Nairobi menerima suntikan dana yang besar dan melebarkan sayap bisnisnya. Di setiap cabang, Coffee Shop Nairobi dikenal masyarakat sebagai sebuah tempat pertemuan yang bermakna.
Kesimpulan
Kalau melihat 2 kisah di atas, perbedaan Arturo dan Nairobi hanya terdapat pada pola pikir. Keduanya sama-sama menginginkan kesuksesan dan keuntungan finansial. Tapi perbedaan pola pikir tersebutlah yang membedakan bagaimana mereka merespon peluang dan kesulitan.
Arturo melihat peluang hanya melalui kacamata profit - apa yang ia bisa dapatkan melalui peluang ini. Sedangkan Nairobi memiliki fundamental dan pertimbangan yang lebih matang:
Apakah konsep dan sistem bisnisku sudah cukup kuat untuk diduplikasi?
Apakah timku sudah siap untuk melakukan pengembangan bisnis?
Apakah di setiap cabang bisnis coffee shop milikku, aku bisa menciptakan tempat pertemuan yang bermakna?
Saat menghadapi kesulitan, Arturo dengan mudah tergiur oleh peluang lain. Beda dengan Nairobi, yang melihat kesulitan sebagai tantangan untuk memantapkan fondasi bisnisnya.
Kalau di dunia nyata, sebenarnya ada juga Arturo-Arturo yang sukses. Tapi berdasarkan pengalaman, saya tidak akan lagi tergoda menjadi seperti Arturo. Kenapa? Karena sesukses apapun Arturo, kemungkinan besar fundamental bisnisnya sangat lemah dan tidak tahan banting begitu jatuh.
10 Checklist Anti Gagal Membuka Coffee Shop Impianmu - Part 2 of 2
Part 2 ! Membaca ini akan membuat kamu 1 langkah lebih dekat untuk bisa sukses membuka Coffee Shop Impian.
Sudah membaca part 1? Kalau sudah dan kamu kembali lagi untuk membaca part 2, ini akan jadi hari baik buat kamu. Karena berarti kamu 1 langkah lebih dekat untuk masuk kategori manusia terpilih yang bisa sukses membuka Coffee Shop Impian.
Untuk semakin meyakinkan kamu bahwa persiapan bisnis yang matang adalah hal yang penting, saya ingin memberikan sebuah insight.
Menurut Allegra World Coffee Portal, saat ini industri kopi secara global sudah memasuki era 5th wave. Wave ini merepresentasikan kualitas visi dan eksekusi yang perlu dimiliki untuk memenuhi keinginan, kebutuhan, dan aspirasi para Milenial dan Generasi Z - 2 generasi yang sangat cerdas dan memiliki kebutuhan tinggi untuk merasakan keterikatan.
Yang berarti: untuk sebuah coffee shop bisa bertahan dan berkembang dibutuhkan pemahaman yang mendalam akan pasar. Kemudian memiliki tim yang mampu melakukan level eksekusi luar biasa dalam memberikan experience berkualitas tinggi dengan konsisten dan progresif.
Maka dari itu, yuk buang pemikiran: "udee, buka dulu aja abis itu baru mikir," jauh-jauh ke laut. Dan mari kita mulai part 2!
Business Model
Kalau kamu sudah melakukan riset berdasarkan sumber yang saya bagikan di artikel sebelumnya, bisa dibilang kamu sudah menyelesaikan 60% dari checklist ke-6 ini. Karena dasar pembuatan business model adalah pemahaman akan target market.
Dalam membuat business model, ada 2 canvas yang perlu kamu lengkapi yaitu, Value Proposition Canvas dan Business Model Canvas. Saya tidak akan menjelaskan dengan detail mengenai 2 canvas tersebut, karena bakal panjang banget. Kamu bisa baca sendiri di link ini ya: Value Proposition Canvas dan Business Model Canvas.
Dulu saya males banget bikin business model karena bikin ngantuk, dan kayanya ga bakal kepake banget juga. Dan bisa dibilang hal tersebut benar saat bisnisnya masih kamu jalankan dengan tim yang sangat kecil, dan kamu hampir mengerjakan semuanya.
Tapi saat kamu mulai membentuk sebuah tim, dan kamu butuh mendelegasikan banyak pekerjaan dan pengembangan, ke-2 canvas ini merupakan salah satu panduan yang sangat ampuh dalam menjalankan dan mengembangkan bisnis bersama-sama.
Setelah membuat, jangan terpaku dan jadi kaku pada business model yang telah kamu buat. Ada 2 alasan mengenai pemahaman ini. Yang pertama, business model pertama kamu bisa jadi kurang tepat. Yang kedua, masa kini dan masa depan akan menjadi sebuah zaman yang semakin cepat berubah. Ada baiknya kamu melihat kembali business model kamu setiap 3 bulan sekali untuk melihat apakah business model kamu masih relevan dan optimal?
Alangkah baiknya kalau kamu memiliki kantor dan bisa memajang ke-2 canvas ini di papan atau tembok agar mudah dilihat dan dimodifikasi.
Brand
Membangun brand adalah yang terpenting. Kesuksesan kamu dalam membangun brand bisa jadi penentu utama apakah orang akan senang atau malas saat mendengar nama usaha kamu.
Patut diakui kalau pembuatan nama sebuah brand dan filosofi di belakangnya merupakan hal yang sangat penting. Lumayan banyak yang bilang filosofi di belakang nama Three Folks dan pemilihan logo dengan icon Gurita, merupakan hal yang keren dan inspirasional. Dan ini membuat strategi komunikasi menjadi lebih mudah. Memang hebat teman saya yang namanya Kuncoro.
Cek karyanya di Behance!
Namun baru-baru ini saya sadar kalau ternyata memiliki logo, nama, dan filosofi itu baru salah satu langkah branding. Dan bisa dikatakan memiliki impact yang kecil kalau kita ga paham soal branding.
Brand merupakan persepsi customer mengenai satu entitas. Berarti branding merupakan kegiatan untuk membangun persepsi customer mengenai usaha kita. Membangun branding tidak bisa terjadi dalam semalam. Persepsi customer harus dibangun melalui konsistensi dalam jangka waktu yang panjang.
Coba kamu perhatikan brand-brand besar seperti Starbucks, Blue Bottle, % Arabica, dan lain-lain. Jarang sekali ada customer mereka yang peduli mengenai filosofi, sejarah, atau bahkan kopinya. Tapi mereka menjadi pelanggan setia, karena brand ini telah diingat sebagai brand yang dapat dipercaya dalam memberikan keinginan mereka.
Dari deskripsi target market dan business model yang telah kamu buat, coba deskripsikan bagaimana kamu mau brand kamu diingat oleh orang. Jadikan hal tersebut sebagai komitmen dan panduan dalam melakukan segala hal dalam bisnis kamu.
Barista
Wahai teman-temanku para pemilik coffee shop indie yang tidak menggaji barista kita sesuai dengan ketentuan UMR yang berlaku,
Kita bisa punya banyak alasan di belakang keputusan tersebut, namun mari kita akui bersama kalau alasan-alasan kamu tidak cukup kuat untuk membenarkan keputusan tersebut 😇.
Pertanyaan seperti: "Kalau dari awal bikin projection tidak bisa menggaji karyawan sesuai dengan aturan UMR, kenapa maksa buka usaha?" dan "Kalau profit hanya bisa kamu dapatkan dengan memotong gaji karyawan, buat apa buka usaha?" Sudah cukup bikin kita skakmat, bukan?
Kalau sudah mengakui hal tersebut, di checklist ini saya ingin ajak kamu berpikir. Kalau dari segi gaji belum memenuhi kriteria, apa yang bisa kamu lakukan? Aspek apa yang harus dimiliki di sebuah coffee shop, agar coffee shop kamu bisa menjadi lapangan kerja yang baik bagi barista-barista kamu?
Ini yang saya coba bangun di Three Folks:
Menjadi wadah belajar bagi barista untuk menggali ilmu dan mengembangkan diri
Menyediakan fasilitas yang layak untuk bekerja
Membangun kebudayaan yang produktif, positif, dan terbuka
Menjadi sosok mentor dan teman bagi tim
Hitung-hitung sekalian mempersiapkan saat usaha kamu mau scale up. Kamu jadi sudah punya tim yang bisa diajak maju bersama sekaligus memberikan mereka tahapan karir. Setidak-tidaknya, coffee shop kamu juga bisa jadi tempat mereka mempersiapkan diri dengan baik dan benar agar mereka bisa mendapatkan kesempatan yang lebih baik di masa depan.
Yang perlu diingat lagi, barista adalah Superstar dari setiap coffee shop. Mereka adalah lini depan yang akan melayani tamu dan merepresentasikan brand kamu setiap hari. Bisa dibilang, perkembangan brand kamu akan sangat berbanding lurus dengan perkembangan barista-barista kamu.
Agar kamu mengerti lebih dalam mengenai sudut pandang profesi barista, kamu boleh cek link ini: https://sylferwriteskopi.wordpress.com/
Perizinan dan Perpajakan
Bisa dibilang, ini merupakan antagonis semua bisnis. Seolah-olah namanya pantang disebut seperti Voldemo*rt di buku seri Harry Potter. Kalau saya ajak sesama pemilik usaha ngomongin ini, sering banget saya dapat respon garuk-garuk kepala atau menghela nafas panjang dengan tatapan putus asa sambil berkeringat dingin.
Dan seringkali hal tersebut terjadi karena mereka memilih menggunakan manuver-manuver canggih untuk menghindari kewajiban penuh dari perizinan dan perpajakan.
Tapi ya kurang lebih kasus perizinan dan perpajakan sama dengan kasus gaji UMR Barista. Pertanyaan-pertanyaan seperti: "Kalau tidak berniat mengurus izin dan perpajakan, kenapa memaksa buka usaha?" dan "Kalau profit hanya bisa kamu dapatkan dengan memotong kewajiban pajak, buat apa buka usaha?" Sudah cukup bikin kita skakmat, bukan?
Apalagi perizinan dan perpajakan ini benar-benar bisa bikin berabe, karena badan hukum lebih sensitif akan hal ini. Bayangkan kamu tiba-tiba didenda dan disuruh tutup kalau tidak memenuhi kewajiban saat kondisi bisnis juga sedang tidak baik.
Ada baiknya kita berdamai dengan izin dan pajak, dan membiasakan diri untuk memenuhi kewajiban dari awal. Kamu ga perlu urus sendiri kok, banyak outsource handal yang bisa membantu kamu mengurus hal ini. Jadi kamu bisa fokus di pengembangan bisnis.
Fokus dan Scale Up Kualitas
Melakukan scale up dan buka cabang di mana-mana memang terdengar menggiurkan. Saat brand kamu mulai dikenal dan bisnis kamu berjalan dengan baik, pasti akan muncul tawaran-tawaran dari berbagai macam orang untuk melakukan investasi di bisnis kamu.
Tapi merujuk ke pembukaan artikel ini, trend masa depan akan bergantung pada kualitas experience yang konsisten dan progresif. Yang berarti, coffee shop yang dibuka dengan persiapan tidak matang akan semakin sulit untuk bertahan. Scale up kualitas pelayanan dan online presence akan menjadi lebih berdampak dibandingkan scale up dengan melebarkan sayap toko fisik.
Kalau kamu juga follow Instagram Gary Vee, kamu pasti sering dengar ceramah bahwa online presence di masa depan akan menjadi mata uang utama. Dan dapat menentukan apakah bisnis kamu menarik pasar atau tidak.
Kalau di zaman kini, bisnis kamu mungkin masih bisa laku dengan eksekusi pelayanan dan produk yang baik tanpa mengolah online presence dengan optimal. Tapi bisa jadi hal ini tidak berlaku lagi di masa depan. Pelajari dan bentuk tim khusus untuk mengembangkan akun social media kamu: Instagram, Tik Tok, LinkedIn, dan Youtube.
Pastikan kamu telah melakukan development brand, bisnis, dan tim yang solid sebelum memutuskan untuk menerima investasi dari pihak luar. Karena bisa-bisa kamu malah mengecewakan dan / atau disetir oleh investor kalau bisnis kamu tidak solid dan bermasalah.
Bonus: Siapkan Mental, Jaga Kesehatan, Tingkatkan Doa dan Komunikasi
Ini checklist bonus dan bisa jadi lebih penting dibandingkan yang lain. Membuka coffee shop adalah perjuangan keras, tapi menjalankannya lebih berat lagi. Sesiap apapun dan sekeren apapun tim kamu, operasional pasti bakal berantakan, pemasaran pasti banyak cacat, konflik internal akan terjadi, keuangan amburadul, dst, dll, etc.
Godaan agar kamu menyerah atau melakukan toleransi disiplin akan menyerang bagai badai yang seolah-olah tidak masuk akal untuk dihadapi.
Sesuai judul checklist bonus ini, kamu harus menyiapkan mental untuk segala masalah yang akan terjadi agar tidak reaktif dan salah mengambil langkah. Luangkan waktu untuk berolahraga, menjaga pola makan, dan selalu tidur yang cukup agar kamu selalu memiliki kondisi otak yang optimal.
Tingkatkan doa agar kualitas spiritual kamu selalu terjaga dan mendukung self-development kamu ke arah yang positif. Jadikan budaya tim agar selalu berdoa bersama setiap rapat atau briefing. Ini akan menjaga mental kamu dan tim untuk tidak salah mengambil keputusan saat ada tantangan.
Tingkatkan komunikasi ke partners dan tim setiap ada konflik atau koordinasi agar tidak terjadi slek karena miskom. Tingkatkan komunikasi dan selalu luangkan waktu juga ke orang-orang tersayang kamu. Karena kemungkinan besar waktu kamu akan terserap sangat banyak di beberapa bulan pertama untuk mengurus coffee shop kamu. Percayalah kamu sangat membutuhkan mereka untuk bisa menjadi mental support.
Kesimpulan
Selamat! Kamu sudah selesai membaca 2 part dari artikel panjang ini. Semoga 15 - 30 menit yang kamu luangkan untuk baca artikel panjang ini bisa mempersiapkan kamu lebih baik lagi untuk membuka coffee shop impianmu.
Kalau setelah membaca semangat kamu malah jadi kendor, ini waktu yang baik untuk berefleksi apakah coffee shop benar-benar merupakan passion kamu. Karena kalau bukan passion, saya rasa mustahil kamu mau stres bekerja keras dan mengorbankan waktu yang sangat panjang untuk business model yang hanya mendapatkan keuntungan 20% dari Revenue.
Meskipun di part 1 saya sempat bilang ingin menghajar kedua teman saya saat ingin buka coffee shop di tahun 2016, tapi saya tidak pernah menyesali keputusan tersebut.
Membuka Three Folks merupakan keputusan terbaik dalam karir saya. Karena perjalanannya yang berat dan menantang memaksa saya untuk bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik lagi. Dan dalam perjalanannya, saya menemukan keluarga kedua yang senantiasa mendampingi di setiap proses.
Saya harap perjalanan kamu membuka coffee shop impian juga akan menjadi perjalanan yang seru dan membuat kamu dipenuhi rasa syukur. Selamat berjuang!
10 Checklist Anti Gagal Membuka Coffee Shop Impianmu - Part 1 of 2
Tabungan sudah terkumpul. Ide terbayang dengan solid di kepala. Motivasi dan semangat berada di puncak. Saatnya membuka Coffee Shop yang sudah diidam-idamkan.
Tabungan sudah terkumpul. Ide terbayang dengan solid di kepala. Motivasi dan semangat berada di puncak. Saatnya membuka Coffee Shop yang sudah diidam-idamkan.
Kalau mengingat momen ini di akhir tahun 2016, rasanya ingin sekali memukuli / menghajar diri sendiri dan kedua partner saya. Banyak sekali aspek yang tidak termasuk dalam pertimbangan - alhasil membuat kami kecewa, rugi, bertengkar, dan sempat kehilangan semangat.
Meskipun ketidakmatangan rencana tersebut yang membuat perjalanan bisnis lebih seru (dan menantang tentunya), tapi rasanya malu juga kalau mengingat kelalaian-kelalaian yang timbul karena menyepelekan hal penting.
Kalau kamu sedang dalam proses atau berada di momen pembukaan cerita di atas, saya sarankan kamu meluangkan waktu 10-15 menit untuk baca artikel ini. Kalau kamu sedang membuka coffee shop, artikel ini bisa kamu pakai untuk melakukan refleksi atau memperbaiki beberapa hal.
Semoga 10 aspek yang saya muat-muatkan dalam artikel ini, bisa membuat kamu jadi lebih bijaksana dan sukses dibanding saya.
#1 Pola Pikir
Kenapa kamu memutuskan untuk membuka Coffee Shop? Di setiap diskusi mengenai hal ini, saya seringkali mendapati jawaban:
Saya ingin membagikan kopi yang enak bagi banyak orang
Saya menemukan passion saya dalam kopi, dan saya merasa nyaman dengan orang-orang di komunitas kopi.
Saya melihat industri kopi memiliki potensi dan peluang untuk berkembang pesat dan menjadi berkat bagi banyak orang.
Saya ingin memiliki bisnis yang bisa menjadi tempat berkumpul teman, keluarga, dan mempertemukan orang-orang dari berbagai kelas ekonomi dan sosial.
Alasan-alasan seperti ini yang membuat saya juga jadi terinspirasi membuka dan terus menjalankan sebuah coffee shop. Meskipun tidak berarti orang-orang dengan pola pikir seperti di atas pasti berhasil, tapi menurut saya ini adalah awal yang baik.
Pastikan juga alasan-alasan mulia di atas lebih kuat dibandingkan sekedar ingin menjadi cepat kaya lalu mendapatkan passive income. Bukan berarti keinginan memperoleh keuntungan melalui coffee shop salah. Tapi kalau posisi mental tidak tepat, kamu malah bisa jadi batu sandungan bisnis setiap ada tantangan.
Kalau kamu bermitra dengan teman, atau memiliki investor, coba adakan diskusi perihal ini terlebih dahulu. Selaraskan tujuan dan komitmen sebelum memulai. Apakah bisnis ini dibangun untuk bertahan selamanya? Atau dibuat untuk suatu hari kemudian dijual? Diskusikan juga skema exit plan kalau usaha tidak berjalan sesuai dengan harapan.
Lakukan diskusi ini di awal dan lakukan penyelarasan secara rutin. Saya sempat ingin menyiram salah satu partner saya pakai kopi panas karena kesal. Padahal ternyata cuma salah paham.
Kenapa kamu memutuskan untuk membuka Coffee Shop? Tuliskan hal ini dengan jelas, agar kamu dapat selalu merefleksikan diri kembali di perjalanan bisnis kamu.
#2 Tim, Budaya, & Visi
Ini penting banget. Bisa dibilang hal ini adalah hal utama yang saya sesali karena tidak saya ketahui di awal.
Dalam buku Good To Great karya Jim Collins, ia menyebutkan bahwa langkah awal untuk membangun sebuah organisasi yang hebat adalah menjadi pemimpin yang memiliki kerendahan hati dan profesional.
Langkah kedua adalah mengisi tim dengan orang-orang yang tepat. Pemahaman orang tepat yang dimaksud adalah orang-orang yang disiplin dan memiliki kecocokan interpersonal dengan kamu.
Langkah ketiga adalah membangun budaya kejujuran dan keterbukaan. Budaya ini dibutuhkan agar organisasi kamu menjadi tempat kerja yang konstruktif dan siap menghadapi tantangan apapun.
Sebelum menentukan visi, membuat business model, ataupun menciptakan brand, 3 hal di atas adalah prioritas utama. Karena secanggih apapun skema bisnis yang ada di kepala kamu, semuanya bakal percuma kalau tim kamu tidak solid.
Kalau diskusi untuk membuat strategi saja sudah bikin mau nyerah, apalagi nanti pas menjalankan. Belum lagi kalau ada yang dikit-dikit tersinggung. Ah lelah.
Coba pelajari link ini ya biar bisa belajar lebih detail -> Rangkuman buku Good to Great.
Kalau udah, yuk baru ngobrolin strategi!
#3 Cek Dompet
Idealis boleh, tapi harus realistis. Sebagai strategi awal, coba cek dompet masing-masing. Cek sekali lagi apakah tabungan/dana yang sudah kamu sediakan benar-benar cukup untuk membuka sebuah coffee shop.
Saya jabarkan dulu kebutuhan dan biaya membuka coffee shop:
Brand Design - IDR 20 juta
Interior Design - IDR 20 juta
Sewa - IDR 90 juta
Konstruksi - IDR 200 juta
Mesin Kopi - IDR 85 juta
Peralatan dan Mesin Lainnya - IDR 45 juta
Perlengkapan sekali pakai - IDR 10 juta
Tableware - IDR 10 juta
R&D dan training - IDR 5 juta
Gaji - IDR 50 juta
Belanja bahan - IDR 10 juta
Kasir, CCTV, Sound System - IDR 15 juta
Lain-lain - IDR 29 juta
Tambah Daya listrik - IDR 20 juta
Internet - IDR 2 juta
Dekorasi & Tanaman - IDR 8 juta
Seragam & Apron karyawan - IDR 3 juta
Izin Usaha - IDR 12 juta
Total - IDR 635 juta
Angka di atas saya buat berdasarkan perhitungan rata-rata kalau kamu ingin membuat coffee shop dengan interior nyaman, brand design menarik, mesin bagus, berlokasi di area pinggir jalan dengan ukuran tidak terlalu besar (sekitar 120m2), dan tanpa dapur.
Dari 14 poin di atas, kira-kira yang dulu saya perhitungkan hanya 8 poin. Udah bikin rencana, eksekusi setengah jalan, eh uangnya kurang. Kurangnya banyak pula. Akhirnya pinjam kanan kiri deh kemudian dicukup-cukupin.
Kesalahan saya waktu itu adalah terlalu memaksakan idealisme coffee shop yang ingin saya buat, dan akhirnya meminjam terlalu banyak. Padahal kalau dipikir lagi, banyak sekali biaya yang bisa saya pangkas agar dapat membuka coffee shop yang optimal dengan biaya seadanya.
Andaikan dulu saya dan teman-teman cek dompet dan semua biaya dengan lebih matang. Lebih baik saya buka seadanya dulu, kemudian fokus di strategi penjualan sambil terus melakukan pengembangan.
#4 Projection / Proyeksi
Setelah selesai cek dompet dan menentukan biaya yang ingin kamu keluarkan, saatnya berhitung lagi. Siap-siap ya, ini agak bikin pusing kalau kamu tidak suka angka.
Kapan mau balik modal? Perkiraan ideal usaha Food Service untuk balik modal ada di antara 1 - 2 tahun. Di bawah 1 tahun berarti bisnis kamu layak dikembangkan. Kalau sudah di atas 2 tahun, hmmm. Ada baiknya kamu melakukan evaluasi menyeluruh, dan mempertimbangkan kelanjutan bisnis kamu. (*menampar diri sendiri)
Agar balik modal kamu lancar, pastikan kamu menguasai cara membuat projection dengan benar. Ini Financial Dashboard yang biasa saya gunakan dalam melakukan projection dan mengecek kelayakan bisnis setiap bulan:
Pendapatan setelah dikurangi pajak: 100%
Harga Pokok Produksi: 35%
Gaji: 25%
Sewa: 10%
Utilities: 5%
Pemasaran: 5%
Keuntungan: 20%
Setelah mengetahui ini, kamu bisa memperkirakan kira-kira berapa penghasilan yang harus kamu dapatkan agar bisa balik modal sesuai target. Dan biaya apa saja yang harus kamu jaga dengan ketat agar tidak bocor.
Pada saat kamu membuat projection jangan lupa juga untuk memasukkan pajak tahunan dan THR. Kalau kamu membayar kontrak sewa per tahun, pastikan kamu selalu bisa menyisihkan uang setiap bulan untuk membayar sewa tahun selanjutnya.
Pada perencanaan biaya, masukkan gaji kamu juga ya. Kalau tidak, kamu bakal lemas menjalaninya. Set di angka yang wajar, sesuai dengan perkembangan bisnis kamu.
#5 Riset
Strategi ketiga adalah melakukan riset. Kumpulkan data sebanyak mungkin, agar kamu bisa membuat perencanaan bisnis yang matang. Berikut 3 hal yang perlu kamu teliti:
#1 Target Market.
Banyak cara untuk meneliti target market, tapi metode yang menurut saya paling relevan saat ini saya temukan di buku Sell Like Crazy by Sabri Suby. Dalam bukunya, kamu akan belajar untuk menciptakan "Avatar" target market idaman kamu. Saya sarankan kamu beli dan baca bukunya untuk belajar lebih detail.
Melalui pembuatan "Avatar" ini kamu dapat mengenal target market kamu dengan lebih mendalam berdasarkan 4 aspek utama:
Harapan, impian, dan keinginan
Kehidupan sehari-hari
Tempat berkumpul dan bertemu
Media utama yang digunakan dalam berkomunikasi
Kalau skala bisnis kamu kecil, mendefinisikan target market adalah langkah yang sangat signifikan. Karena berarti kamu bisa fokus dalam memberikan yang terbaik bagi target market kamu. Dan kamu bisa menggunakan rumus ini untuk menentukan pricing, promotion, branding, sampai pengembangan menu.
#2 Lokasi.
Tentukan lokasi usaha kamu berdasarkan: target market, biaya sewa, akses, dan perizinan usaha.
Meskipun sekarang kamu bisa mengandalkan sosial media dan e-commerce, memiliki tempat yang mudah diakses dan mudah dilihat masih menjadi faktor utama sebuah brand diingat atau tidak. Buka opsi juga untuk membuka usaha kamu dengan berbagi 1 lokasi bersama bisnis lain agar biaya sewa lebih murah.
Kalau hal ini tidak memungkinkan, jangan patah harapan dulu. Ini hanya berarti kamu harus berinvestasi lebih di bagian pemasaran. Banyak juga kok coffee shop tersembunyi tapi laku banget.
#3 Kompetisi.
Setelah melakukan riset atas target market dan lokasi, langkah riset terakhir adalah menganalisa kompetisi. Siapa yang membuat bisnis dengan target market yang kurang lebih mirip dengan kamu? Di lokasi yang sudah kamu tentukan, ada coffee shop atau restoran apa saja?
Buat analisa simpel dengan metode SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat). Yang harus kamu perhatikan dalam menganalisa kompetisi hanya dua hal:
Apa yang membuat target market kamu senang dengan kompetitor?
Di aspek mana kamu bisa mengalahkan mereka?
Kesimpulan
Wah, panjang juga ya. Dan ini baru setengahnya. Tadinya saya kira cukup di satu artikel, tapi kok nulisnya tidak selesai-selesai.
Saya buat bersambung aja ya, jadi minggu depan ada part 2.
Mungkin beberapa dari kamu setelah baca sampai sini ada yang berpikir, "Masa sih buka coffee shop harus sebegininya? Kayanya terlalu ribet. Kurang santuy nih pemikirannya."
Saya juga pernah kok mentoleransi diri sendiri dan ambil jalan-jalan pintas karena tidak mau terlalu pusing. Tapi alhasil banyak kesandung, banyak rugi, akhirnya mau tidak mau saya beresin semua dasar-dasarnya. Lebih pusing lagi membereskannya karena bisnis harus tetap berjalan.
Jadi, lebih baik diberesin dari awal kan?
Sedia payung sebelum hujan. Ini peribahasa yang tepat sekali untuk topik ini. Mungkin malah lebih relevan sedia kapal sebelum badai. Karena memang seperti itu rasanya. 🤙
By: Dave Setiaputra, CEO & Co-Founder Three Folks